Sebelum Paparkan Materi HIV & AIDS, Dr. Maya Trisiswati MKM Ngetes Para Jurnalis
Admin aidsbali | 17 September 2021 | Dibaca 167 kali

AIDSBALI.ORG. Pelatihan Jurnalis yang dilaksanakan Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI Nasional) sangat menarik untuk diceritakan. Dalam pelatihan yang dilaksanakan 13-14 September 2021 lalu secara daring, salah satu narasumber yaitu dr Maya Trisiswati, MKM,  menguji peserta terkait siapa yang terinfeksi HIV pada gambar yang disuguhkannya di screen. Ternyata sebagian besar peserta kurang pas untuk menjawabnya. Ada yang menjawab yang kurus, yang bertato bahkan yang anak-anak.


Pegiat HIV yang juga salah satu orang penting dalam lembaga KPAP DKI Jakarta ini mengungkapkan, mereka yang terinfeksi HIV itu tidak bisa ditebak dengan gambar saja. Harus dibuktikan dengan hasil tes.

Kegiatan ini diikuti oleh puluhan jurnalis pegiat HIV tingkat Nasional salah satunya adalah perwakilan Kelompok Jurnalis Peduli AIDS Provinsi Bali dari Kelompok Media Bali Post Citta Maya.  Sementara itu, Konsultan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Jawa Barat, Tri  Irwanda Maulana mengungkapkan, Saat ini sudah tiga dekade lebih, kasus HIV-AIDS ada di Indonesia, namun persoalan stigma dan diskriminasi pada orang dengan HIV masih terjadi.

’Pada awalnya informasi mengenai HIV dan AIDS memang sangat terbatas, bahkan seringkali mengandung bias dan kekeliruan. Informasi HIV dan AIDS kerap diwarnai sejumlah mitos, alih-alih dipandang sebagai fakta medis. Sebagian orang mengaitkannya dengan sudut pandang moralitas. Ini terjadi karena infeksi HIV awal mulanya banyak ditemukan pada kelompok homoseksual. Kelompok ini tentu dianggap melanggar norma dan moralitas masyarakat, maka HIV pun kerap dianggap sebagai ganjaran atas pelanggaran itu,”katanya.

Dalam perkembangannya lanjut Tri Irwanda, HIV dan AIDS juga banyak ditemukan pada wanita pekerja seks dan pengguna narkotika suntik. Fenomena ini tak ayal makin menyuburkan mitos tersebut. “HIV dan AIDS diidentikkan dengan perilaku ‘menyimpang’ yang tidak sesuai dengan nilai moral masyarakat. Kondisi ini menyuburkan stigma pada orang dengan HIV atau pada populasi kunci terkait HIV-AIDS umumnya. Stigma alias cap buruk kerap berujung diskriminasi,”katanya.

Pemahaman masyarakat yang bias jelas Tri Irwanda, kian rumit manakala media massa yang seharusnya menjadi sumber informasi akurat, justru tidak jarang memperkuat bias tersebut. Pemberitaan tentang HIV dan AIDS yang keliru (disinformasi), sensasionalitas berlebihan, dan memberikan stigma pada populasi kunci masih kerap ditemui. Pemberitaan media juga masih banyak yang tidak menunjukkan sikap empati kepada orang dengan HIV.

“Berbagai faktor bisa jadi penyebabnya. Mulai dari narasumber berita yang tidak kompeten, cara pandang media terhadap sebuah isu, hingga pola kerja media yang lebih mementingkan kecepatan. Akan tetapi satu hal yang kerap kali jadi penyebab adalah kurangnya pemahaman jurnalis mengenai HIV dan AIDS secara mendalam,”ungkapnya.

Hal itu juga ditegaskan penulis buku senior Patri Handoyo. Aktivis Antinarkoba ini mengatakan, sampai saat ini memang banyak hal yang perlu dibenahi terkait penulisan berita HIV dan AIDS di media. “Memang banyak yang harus dibenahi, ini kemungkinan karena pemahaman jurnalis yang kurang diupgrade serta perkembangan informasi HIV dan AIDS sangat cepat berkembang. Sehingga diperlukan pelatihan secara kontinyu,”katanya.***TIM

 

Share :