Kisah Pengidap HIV di Singaraja Berjuang Untuk Bertahan Hidup
Admin aidsbali | 15 Agustus 2021 | Dibaca 279 kali

HIV bisa menyerang siapa saja, kalau kita tidak tahu bagaimana cara penularannya dan pencegahannya. Demikian pula dengan apa yang dialami seorang perempuan Bali asal Singaraja Ni Wayan Jegeg (Bukan Nama Sebenarnya). Kenyataan Ini memang sangat pahit sekali. Ni Wayan Jegeg (31) adalah seorang ibu rumah tangga yang mengetahui status HIV-nya pada 2001.


Ni Wayan Jegeg dengan sabar mendampingi suaminya yang sakit TBC parah saat opname di RSUP Sanglah Denpasar, hingga akhir hayatnya. Saat itu perempuan berparas manis ini tahu dirinya juga mengidap HIV. Tidak ada penyesalan yang terbersit dalam benak dan dirinya karena tertular HIV dari sang suami.

Ni Wayan Jegeg adalah sosok perempuan yang tidak mudah menyerah, terutama pada nasib. Ia yang sempat menangis saat suaminya wafat, telah tenang kembali. Namun bukan berarti tanpa cobaan. Masyarakat dan keluarga besar sempat memberi stigma dan perlakuan diskriminatif padanya. Ni Wayan Jegeg dijauhi. Tidak ada yang berani bersentuhan.

Bahkan oleh keluarga besarnya, peralatan makan di rumah pun disediakan terpisah.Pandangan jijik padanya juga harus dia terima. Karena sakit hati yang mendera, akhirnya dia jatuh sakit. Ia tidak kuat menahan depresi dan rasa malu mendengar gunjingan tetangga tentang penyakit yang diidapnya. Dia dirawat di tempat yang sama dengan suaminya selama tiga bulan.

Seorang sepupu Ni Wayan Jegeg yang bekerja sebagai perawat paham tentang HIV dan AIDS, baik cara penularannya maupun pencegahannya. Melalui dialah, keluarga besar dan tetangga paham bahwa HIV yang diidap Ni Wayan Jegeg tidak mudah menulari mereka. Justru mereka harus turut mendukung menjaga kesehatan Ni Wayan Jegeg yang sistem kekebalan tubuhnya lebih rendah dari orang lain sehingga lebih mudah sakit.

Setelah informasi yang benar tentang HIV dan AIDS dipahami keluarga besar dan para tetangga, Ni Wayan Jegeg akhirnya diterima di tengah keluarga dan masyarakat. Tidak ada lagi pandangan jijik terhadapnya. Apalagi Ni Wayan Jegeg hanya tertular dari suaminya yang menyuntik narkoba saat masih hidup. Mereka paham, Ni Wayan Jegeg tertular HIV bukan karena perilakunya sendiri.

Ia pun Bangkit Kembali dan menata kehidupannya. Secara teratur melakukan cek kesehatan walaupun harus menempuh perjalanan tiga jam dengan menggunakan sepeda motor dari Singaraja ke Denpasar. Dia juga aktif di kelompok dukungan sesama orang dengan HIV-AIDS (ODHA), Kosala Bali Singaraja. Ia bahkan tak segan berbagi cerita serta berbagi semangat dan dukungan dengan pasien yang baru tahu mengidap HIV.

Ni Wayan Jegeg pun merengkuh komunitas ODHA dengan senyum dari hati. Sebuah kekuatan yang berdampak positif pada kesehatan dirinya.

Senyum Ni Wayan Jegeg tidak hanya istimewa bagi teman-teman komunitas ODHA, tapi juga untuk seorang pria yang sudah lama ingin menikahinya. Pria yang tidak mengidap HIV itu menikahinya pada 2010. Kini, anak mereka sudah berusia 7 tahun dan Ni Wayan Jegeg sedang hamil lagi. Usia kandungannya 5 bulan.

Program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak yang telah diikuti Ni Wayan,Jegeg membuatnya tidak menularkan HIV ke anaknya. Ya, Ni Wayan Jegeg dan suaminya adalah pasangan yang hanya salah satunya positif HIV.

Ni Wayan Jegeg telah membuktikan bahwa ODHA juga berhak atas kehidupan bahagia. Berhak untuk menikah dan berhak memiliki anak yang sehat. ODHA tetap bisa menjalani hidup yang bermanfaat bagi sesama.Saat ini dia bisa tersenyum pada dunia dan bisa berbagi cerita tentang hidupnya.  Bukan untuk membuka aib, tapi untuk memberikan pelajaran berharga, bahwa dengan terapi anti-retroviral (ARV) yang teratur, dia bisa hidup sehat.***Tim KPA.

Share :