Ingin Capai Target Ending HIV-AIDS 2030, 4 Media Pencegahan Nyaris Dilupakan
Admin aidsbali | 14 Desember 2021 | Dibaca 68 kali

AIDSBALI.ORG. “Untuk mengoptimalkan capaian ending AIDS pada tahun 2030, perlu diupayakan ketersediaan 4 media pencegahan yaitu, Reagen, Kondom, Pelicin, dan Jarum Suntik. Saat ini, justru ketersediaan Kondom dan Pelicin yang relatif terbatas. Sehingga upaya penanggulangan AIDS menjadi tidak optimal. Selain itu, ada beberapa tokoh masyarakat di Bali yang masih resisten terhadap informasi terkait Kondom. Dan acara Saya pernah mau dibatalkan oknum tokoh tersebut, kalau bicara Kondom di depan peserta sosialisasi Kesehatan reproduksi,”kata Ketua Forum Peduli AIDS Bali yang juga Koord Pokja Monev KPA Provinsi Bali dr Oka Negara S.Ked, M. Biomed FIAS, saat mengisi acara Webinar Hari AIDS Sedunia Tahun 2021 yang dilaksanakan Forum Pedui AIDS Bali, Jumat 10 Desember 2021 lalu.


Oleh Sebab itulah tegas dr Oka Negara diperlukan komitmen dan dukungan semua pemangku kepentingan untuk keberhasilan penanggulangan HIV-AIDS dan pencapaian target. “Tantangan penanggulangan HIV- AIDS dan IMS di Indonesia khususnya Bali adalah bagaimana meniadakan inekualitas dan menjamin kesetaraan. Dan juga menjaga semua upaya mengakhiri AIDS pada tahun 2030 agar tetap pada jalurnya.


Sementara itu, komitmen Pemerintah Daerah Kabupaten Kota di Bali dan kolaborasi kerjasama semua pihak, baik secara individu maupun kelembagaan (OPD terkait di daerah, aktivis AIDS Bali, LSM dan pihak swasta) telah berjalan cukup kondusif. Hal ini perlu dipertahankan untuk komitmen pencegahan dan penanggulangan HIV- AIDS ke depan.


Dalam acara tersebut Keynot Speaker acara Webinar, Prof Dr.dr Tuti Parwati, SPPD, KPTI pun menyoroti fungsi kelembagaan BKKBN yang membatasi fungsinya untuk pengadaan Kondom. Dimana menurut perwakilan BKKBN Bali Billy, BKKBN hanya melayani pengadaan Kondom untuk mencegah kehamilan. “Saya sungguh menyayangkan fungsi kondom BKKBN justru dipersempit. Dan Saya berharap kebijakan pimpinan BKKBN Pusat bisa merevisi kebijakan tersebut. Atau paling tidak dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bisa memberikan solusi,”katanya.


Acara tersebut juga membahas tentang ketidaksetaraan Kesehatan Komunitas. Materi ini dibawakan oleh Pegiat HIV-AIDS asal Gianyar yang juga aktivis Forum Peduli AIDS yang juga menjabat National Program Officer UNODC, I GN Surya Anaya. Ia menjabarkan, ketidaksetaraan Kesehatan yang terjadi saat ini harus segera diklasifikasikan dan dicegah sejak awal. “Mereka yang rentan mengalami ketidaksetaraan Kesehatan adalah Orang Dengan HIV-AIDS, Pekerja Seks Perempuan dan Laki-laki, Laki-Laki yang berhubungan Seks dengan Laki-laki. 


Dengan moderator Ketut Sukanata, SH, Forum Peduli AIDS Bali melaksanakan kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan, menguatkan kolaborasi terintegrasi antara berbagai pemangku kepentingan dalam melaksanakan pencegahan dan pengendalian HIV-AIDS dan IMS. Juga mengingatkan serta mencari solusi bersama terhadap ketersediaan media pencegahan. Dan mengupayakan peningkatan penggunaan media pencegahan untuk memotong mata rantai penularan HIV.***TIM



Share :