Cegah dan Tanggulangi AIDS di Tengah Pandemi Covid-19
Admin AIDS BALI | 04 Agustus 2021 | Dibaca 286 kali

Komponen remaja memang sangat dibutuhkan sekali partisipasinya untuk mencegah dan menanggulangi tngginya kasus HIV-AIDS di Bali. Untuk itu, melalui acara talkshow ini, saya mengajak semua adik-adik remaja Kita di Bali bekerjasama dalam penanggulangan dan pencegahan AIDS ke depan,‘ Kata Drs. Yahya Anshori, M.Si selaku Pengelola Program PMTS KPA Provinsi Bali,  dalam acara talkshow memperingati World AIDS Day 2020 dengan tema “Sinergi Bersama Membangun Gerakan dan Layanan Peduli AIDS di Tengah Pandemi Covid-19, Selasa 15 Desember 2020 secara virtual.

Kegiatan ini diprakarsai KISARA PKBI Daerah Bali,  dipandu relawan KISARA Ni Luh Resmiati, serta menghadirkan narasumber Gusti Ayu Putu Dian Lestari dari  KSPAN SMAN 1  Sukawati, Drs Yahya Anshori,M.Si dari Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Bali  dan  dr Oka Negara,M.Biomed dari Forum Peduli AIDS Bali.

Sebanyak 80 peserta remaja di Bali menghadiri acara ini secara virtual yang dimulai dari pukul 15.00 sampai pukul 18.00 Wita.

Lebih lanjut, Yahya Anshori mengungkapkan, selama pandemi Covid – 19 banyak kegiatan yang dibatasi Pemerintah. Akan tetapi hal itu  tidak membuat KPA berdiam diri, bahkan selama Covid-19, banyak kegiatan dari mitra kerja yang disupport. “Kita memang terus bergerak untuk mengaktifkan peran mitra KPA, seperti LSM serta layanan. Sehingga program Penanggulangan AIDS tidak sampai terhenti,”katanya.

Yahya Anshori juga menegaskan, semua tim KPA tetap melaksanakan Tugas Pokok dan fungsi masing-masing sesuai dengan bidangnya. Hal ini dilakukan agar Penanggulangan dan Pencegahan penyebaran HIV-AIDS di Bali bisa dikendalikan.

Para peserta Talkshow KISARA sangat serius mendengarkan penjelasan Narasumber

“Hanya saja cara untuk melaksanakan aktivitas agak berbeda. Dimana lebih memfokuskan pada pendekatan protokol kesehatan ketat yang dikeluarkan Pemerintah Provinsi Bali. Salah satunya adalah mengisi kegiatan mitra kerja sebagai narasumber secara virtual meeting (Zoom) ,”jelasnya.

Sementara itu, Ketua Forum Peduli AIDS Provisi Bali, dr Oka Negara, M.Biomed menambahkan, sampai saat ini, epidemi HIV-AIDS terus berkembang dan resiko masih ada.

Resiko di Bali dan Indonesia masih adanya perilaku seksual beresiko. “Untuk kasus di Bali dari 25.900 sekian, sudah ditemukan 22.000 (persentase 86%), kemudian 93% masih hidup dan 60% pernah ARV dan 37% konsisten minum ARV,”katanya.

Untuk kasus baru AIDS di tahun 2020 imbuh dr Oka Negara,  baru dirilis dari kasus bulan Januari – Juni 2020 oleh Dinas Kesehatan Provinsi Bali. Sedangkan,  kasus bulan selanjutnya masih menunggu data dari Dinas Kesehatan.

dr Oka juga mengungkapkan, dampak Covid -19 pada program kerja lebih banyak pada mekanisme kerja di lapangan, akan tetapi untuk program fasilitasi, pendampingan dan stakeholder dilaksanakan melalui daring saja.  “Layanan kesehatan masih tetap memberikan pelayanan. Hal ini dilakukan untuk memastikan Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA) di Bali bisa mengakses ARV serta bisa mengakses layanan kesehatan dasar di era pandemi ini,”jelasnya.

dr Oka Negara juga menekankan,  HIV masih menjadi masalah di era pandemi Covid-19 saat ini . “Justru belajar atau kerja di rumah, bisa saja menyebabkan kasus kekerasan seksual meningkat. Karena di rumah resiko dan intensitas bertemunya lebih sering terjadi. Hanya saja, karena ada pembatasan dan juga orang tersebut berisiko ditambah ketidaktahuannya tentang informasi, sehingga mereka pun masih takut  datang ke layanan VCT, maka dari itu di masa pandemi ini, layanan VCT tetap berjalan disertai edukasi secara berkelanjutan, walaupun secara virtual

Share :