AA Ngurah Patria Nugraha Sebut Pusat Masih Koordinasikan Suplai ARV ke Daerah
Admin aidsbali | 01 September 2021 | Dibaca 180 kali

DENPASAR, AIDSBALI.ORG. “Pusat tetap mengkoordinasi serta mengkolaborasi manajemen persediaan ARV antar provinsi dengan memanfaatkan instrument Sistem Pencatatan dan Pelaporan HIV dan AIDS (SIHA). Sehingga ketersediaan ARV dan Non ARV di masa pandemi Covid-19 secara nasional tetap berjalan efektif dan efesien,”kata Kepala Sekretariat KPA Provinsi Bali, AA Ngurah Patria Nugraha, S.Sos, M.AP ketika diwawancarai aidsbali.org usai mengikuti Webinar HIV Program dengan tema Peningkatan Akses Pengobatan dan Pendekatan Gender dalam penanggulangan HIV dalam masa Pandemi di Indonesia, Senin, 30 Agustus 2021 lalu.


Lebih lanjut, AA Ngurah Patria Nugraha yang akrab dipanggil Gung Patria mengungkapkan, Pertemuan itu dilaksanakan dalam rangka menguatkan peran pemerintah serta mengkaji manajemen rantai suplai Obat HIV agar menjadi logistic satu pintu pengelolaan dalam masa pandemi covid 19.

Kepala Sekretariat KPA Provinsi Bali ini juga menambahkan bahwa dalam pertemuan tersebut ditegaskan, pelaksanaan program HIV dan AIDS harus mempertimbangkan prinsip hak asasi manusia sebagai salah satu pendekatan dalam menangani masalah HIV dan AIDS.  “Hal itu harus diingatkan, karena pandemi COVID-19 telah menciptakan keadaan darurat kesehatan yang nyata, pandemi juga berdampak pada rantai pasok obat-obatan termasuk obat HIV di Indonesia, sehingga juga berdampak kepada akses obat dan ODHA itu sendiri,”katanya.

Dalam pertemuan itu juga ungkap Gung Patria, dibahas pendekatan gender dalam penanggulangan HIV Selama masa pandemi covid 19. Selama masa pandemi berdampak pada peningkatan kasus kekerasan seperti pada perempuan dan anak. “Hal ini dibahas karena masih sering ditemukan kasus   perlakuan stigma dan diskriminasi bagi Orang Dengan HIV (ODHIV),”ujarnya.. 

Hal yang penting dalam penanggulangan AIDS, imbuh lelaki kelahiran Carangsari ini adalah bagimana mengatasi masalah stigma dan diskriminasi ini bisa ditekan atau dikurangi, stigma yang kerap terjadi di masyarakat seperti persoalan moral, dan mendapatkan perlakuan yang kurang pantas, bahkan banyak stigma yang datang dari komunitas sendiri.***Tim KPA

Share :